Meringis Melankolis

[Harapan dan Kebohongan Pt. 2]
        Jika Tuhan ingin aku menderita, maka aku sudah mati di tangan-Nya
        Mati di tangan-Nya, harapan dan kebohongan
        Tuhan, apa kau tidak mau melihatku?
        Berkunjung dan mengambil aku?
    
[Pertemuan]
        Pertemuan kita indah
        Dalam ponsel bercengkrama
        Memancing hasrat bersama
        Dekatnya hingga bahana

        Kedewasaan tercermin
        Oleh senyum yang indah

        Risau akan mu
        Tapi kau tak menyadari
        Pertemuan kita
        Hingga kau menolak tau
    
[Terserah Padamu]
        Dia
        Menaruh secarik kertas
        Dalam genggaman hangat
        Yang dingin dan lembab

        Sudah usang balaimu
        Main api sudah usai
        Dari kejauhannya
        Biang lala berputar

        Terserah lagi padamu
        Cepatlah padam apimu
        Terserah lagi padamu
        Biar Tuhan balas kamu

        Gerakannya serampangan
        Berakhir mengenaskan
        Hinggap juga kesadaran
        Ditinggal masyarakat

[愛-Taken from "Puella Magi Madoka Magica Movie"]
    
[Komik Perselingkuhan]
        Sugesti dan harapannya
        Dilucuti peradaban
        Kisahnya amat mencekik
        Tak heran tersendat sedih

        Bukan aku di dalamnya
        Kenangan mu membawanya
        Masuk ke tatanan dunia
        Tak tau malu, bajingan!

        Mencekik perlahan-lahan
        Rak komik perselingkuhan
        Melintas satu anggapan
        Hilangnya kepercayaan
    
[Menjadi Paranoid Itu Menyenangkan]
        Badan ku hancur lebur
        Tertabrak sang waktu
        Mengangkut penumpang bagai harapan
        Bersama anak dan istrinya

        Percobaan bunuh diri yang gagal
        Kar'na ditarik bayangan
        Dia gagal seperti ku
        Tapi mampu berpesta pora

        Kebahagiaan semu membuat nya hancur
        Dan kesedihan yang terus menyelimuti
    
[Anti-Depresan Terbaik]
        Kau renungi segala dosa yang lampau
        Tak ada sinar dan cahaya berkilau

        Gelap kelabu murung suntuk mukamu
        Menang bukan puncak dan serasa semu

        Hinggap di atas sana
        Sang penghancur
        Merusak tubuh
        Dan juga masa kini
    
[Lompat (Intro)]
        Dari ketinggian sana kau melompat
        Eritrosit mengalir pada tubuhnya
        Menata surga yang tak terwujud
        Tanpa solusi utuh dan jalan tengah

[Jangan Lari Ke Sana]
        Bukan tempat yang kamu harapkan
        Hanya cahaya dan kepastian
        Sulit mencari tempat kosong disana
        Jika ditabrak jadi pilihan

        Jangan lari ke sana
        Jangan lari ke sana
        Jangan lari ke sana
        Jangan lari ke sana

        Tubuh ku terkapar
        Tlah berselang tak bersisa
        Tertidur di pegunungan
        Tak satupun yang mampu menopang
    
[Lampu Sorot]
        Ku berdiri di sini
        Menatap layar ponsel ini
        Tak bersuara dan bergeming
        Menyatu dengan lini

        Hidup nya berlawanan
        Layaknya air juga minyak
        Terlihat fiksi untuk nyata
        Tak mungkin ku bersamamu

        Carilah yang lebih dari ku
        Hentikan sandiwara ini
        Seandainya ku bersamamu
        Banyaknya lampu yang menyorot

        Carilah yang lebih dari ku
        Hentikan sandiwara ini
        Matanya dimana-mana
        Banyaknya lampu yang menyorot

        Carilah yang lebih dari ku
        Kumpulan pria dari lorong
        Seandainya tak bersamamu
        Tak banyak lampu yang menyorot
    
[Lekas Besar]
        Satu hari 'dah dikalahkan
        Dilampiaskan dengan pelan
        Tanpa arah kamu berjalan
        Hingga tapak mu dihilangkan

        Hai kau pemakan nasi
        Gila kau normalisasi
        Kecipratan membasahi
        Tanpanya kau hanya mosi

[Wacana (Outro)]
        Wacana
        Terbata
        Wacana
        Terbata

        Wacana
        Terbata
        Dilebur
        Terhina
    

Warna Selangit

[Aku Terbang]
        Menyusuri diri di atas udara
        Mengepul asapnya hingga sesak dada
        Pohon-pohon tak lagi berbuah manis
        Juga mampu menampung emosi

        Tuhan berkata semua baik saja
        Setelah kambing mu menjilat dirinya
        Tersumpal mulut ku oleh kain basah
        Datang tak berarah di udara sana

        Tahun-tahun yang tak ku harapkan
        Hanyut tenggelam di bawah selokan
        Esok hari aku sudah mati
        Terbang ke sana dengan tubuh yang bersih
    
[Menyelam]
        Di suatu hari yang cerah
        Seseorang berjalan kepadaku
        Dia berkata dengan polos di hadapanku
        Kapan aku terakhir kali berubah

        Dia menatapku dengan senyum manis itu
        Bibirnya memanjang eloknya jembatan
        Menghubungkan antar dua belah insan
        Serasa seperti mimpi basah di pagi itu

        Coklat dan buku kecil yang dia berikan
        Berisikan selamat datang pada hidupnya
        Dengan gitar ini aku bersaksi dan bertanya
        Apakah senandung diantara nada rindu ini pantas untuknya

        Kau tak lagi sama
        Mendadak berubah rupa
        Tak sanggup melihatnya tenggelam
        Ku mohon jangan menyelam

        Neraca kebaikan yang timpang
        Serasa hanya sekali kesempatan di hidup ini
        Mungilnya kebaikanku jika dilihat dari rupa
        Tapi kau tahu betul cara menggapai kalbu ini
    
[Tali Temali]
        Serpihan cermin di atas lantai
        Monolog berputar di kepala
        Kapan aku mati
        Kapan aku mati

        Langit itu menatap ku kosong
        Berseru sunyi di tubuh kopong
        Video hentai yang aku tonton
        Melarat perih kelamin ini

        Kapan aku mati
        Kapan aku mati
        Digantung leher
        Dicekik trakea
    
[Jadi Sampaikanlah]
        Senang rasanya saat dia bahagia
        Dan bagian kecil ini dapat melepaskan diri
        Betapa berarti melihat senyum nya
        Jadi tidurlah yang nyenyak, tak semua harus diurus

        Lupakan semua hal yang terjadi
        Luapkan dalam letupan yang kau benci
        Meski angin tak mampu meniup semua
        Maka sampaikan itu dengan wajah riang
    
[Hambatan Berulang]  	
        Dunia menuntut ku juga
        Menahan dan tak berprasangka
        Ku pikir hanya sekedar omong kosong
        Yang tak berarti

        Bisikan kalbu menanti malam
        Terisolasi dalam topeng baja
        Menahan tuk bersandiwara
        Ditahan dalam sel jeruji

        Dan semua tlah hilang
        Dan semua tlah sirna
        Terpaku pada yang tidak berjiwa
        Dan semua tak bernyawa

        "Kau bahkan gagal dalam berkelahi"
        "Tidak pernah bisa menjaga dirimu dengan baik"
        "Siapa yang minta dilahirkan"
        "Jika Tuhan memang maha adil?"
        "Berilah aku secerca harpan"
        "Tahan, tahan, jangan kau siksa aku"
        "Aku tak mau begini"
        "Bukan aku yang minta"